Oleh: Miftahur Rohim, S.S.

………………………………

“Lho Bapak ndak ikut menguji tah?”
“Menguji apa?”
“Ya, tahfiz Alquran dan qiroah kitab lah, Pak? Kan besok saya ujian”
“Alhamdulillah, tidak”
“Kok Alhamdulillah Pak.”
“Ya, iyalah”
“Kenapa pak?”
“Saya itu malu! jikalau kamu nanti grogi di depan saya. Trus tidak bisa atau lupa. Apalagi di sampingmu orang tua kan”
“Ah. Si Bapak meragukan kemampuan saya”
“Kemampuan apa. Menghafal maksud kamu?”
“Iya lah pak”
“Menghafal nilai-nilai kamu yang selalu di bawah 60… he”

……………………………..

Al-quran merupakan pegangan bagi mereka yang menyatakan dirinya tanpa paksaan dengan sebutan muslim. Betapa tidak, mereka yang menyebut dirinya muslim maka harus mengenal Alquran sebagai kitab sucinya. Sama halnya Alkitab bagi kaum kristen, Tripitaka untuk kaum budha, serta Weda bagi kaum hindu.

Dalam pelaksanaan program pembelajaran di madrasah-madrasah kadangkala mewajibkan untuk peserta didiknya hafal dan paham sebagian dari Alquran, serta kitab-kitab salaf lainnya.
Begitu pula di MTs Salafiyah. Setiap tahun siswa dan siswi kelas IX MTs Salafiyah diwajibkan lulus dalam materi Tahfizul Quran dan Qiroatul Kitab. Untuk tahun ini, di MTs Salafiyah ujian dilakukan pada Ahad, 28 Januari 2018. Mulai pukul 07.00 s.d. 12.00 WIB.

Dalam pelaksanaannya, testing tahfiz dan qiroatul kitab pihak madrasah mengundang wali santri untuk mendampingi putra-putrinya. Hal berikut sudah dua tahun ini dilakukan madrasah melalui panitia testing tahfiz dan qiroah kitab. Dengan kehadiran orang tua diharapkan memberikan motivasi dan perhatian kepada siswa-siswi agar bersungguh-sungguh menjalani serangkaian ujian. Disamping itu, agar orang tua juga mengetahui sejauh mana putra-putinya belajar.

Nah, dalam suksesnya kegiatan tersebut ada dua hal yang dianggap penting untuk dibahas, yaitu peng-uji dan uji-an.  Nilainya bagus atau tidak. Kedua hal itu kadangkala menjadi kambing hitam setelah ujian berlangsung.

Penguji
Penguji merupakan orang yang ahli di bidang materi yang diujikan. Ia adalah tokoh utama yang menentukan siswa dan siswi lulus atau tidak. Hal itu yang menjadikan penguji menjadi dilema. Satu sisi menjadikan dirinya malu apabila siswa-siswi yang diuji itu tidak mampu menunjukkan kemampuan maksimal di hadapannya. Madrasah atau bukan ya? Ia pun akan sangat berdosa jika memberikan nilai bagus pada siswa tersebut. Di sisi lain jika penguji memberikan nilai yang jelek, ia akan dianggap siswanya kurang bijaksana dan ‘mentalan’. Apalagi dihadapan orang tua yang notabene orang yang tahu bahwa ia benar-benar nyantri. Ndak lucu kan! Padahal sebenarnya itu bukan salah penguji. Lantas jika benar demikian, harus mikir dua sampai tiga kali untuk menjadi penguji yang amanah, bukan!

Ujian
Ujian merupakan kewajiban setiap individu yang belajar di lembaga pendidikan formal dan nonformal. Tanpa ujian, guru tidak dapat mengetahui sejauh mana siswa-siswinya berkembang. Inilah yang menjadikan para siswa melakukan daya upaya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Meskipun kadang ada beberapa dari mereka yang melakukan hal curang. Contoh kecil dengan mencontek. Kalau begitu, siapakah yang lebih tepat disalahkan?
Namun, ada sebagian dari siswa kadang menyalahkan ‘ujian’. Kenapa kok harus ada ujian? Buat apa kita diuji jika pada akhirnya tidak ada kemajuan. Banyak yang menyontek agar nilainya bagus. Pun yang tidak menyontek, pasti nilainya jelek.
Lha to, ketahuan apa yang disalah-salahkan. Padahal ujian hanya sebuah proses, bukan subjek yang dapat disalahkan seperti siswanya, guru, penguji, ustadz, kyai, atau dosen. Dasar!!! []

6 thoughts on “Uji(an) dan (Meng)uji: Manakah yang Salah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *