Oleh: Laila Al Adawiyah

Angin pergantian musim bertiup hangat membelai dedaunan. Ayunan bergoyang sendiri diterpa angin. Jompat-jampit diam dengan khidmat tanpa penumpang. Permainan putaran terdengar berbunyi “Ngak ngek” saja tanpa ada yang memainkan. Aku duduk di salah satu bangku panjang taman sambil memangku sebuah nampan berisi gorengan. Hari ini tak ada seorang pun di sini, sepi. Beberapa hari yang lalu sontar terdengar berita bahwa ada salah satu jenis virus baru, corona namanya. Aku mendengar bahwa virus itu dari negeri Cina, tepatnya dari salah satu pasar di Kota Wuhan yang menjual berbagai macam hewan, termasuk kelelawar untuk dimakan. Entahlah! Aku tak begitu paham. Aku hanya paham bagaimana caranya agar setiap hari gorenganku bisa laku terjual dan keluargaku bisa makan.
Aku biasanya berjualan sepulang sekolah sampai sebelum adzan Maghrib. Tempat pangkalanku adalah ya di taman ini. Di hari biasa taman begitu ramai dengan para orang tua yang mengajak anaknya bermain, atau anak muda yang asyik nongkrong. Hari ini baru lima gorenganku yang laku terjual, padahal biasanya saat sudah mendekati pukul setengah enam hanya tinggal beberapa saja. Kemarin masih ada beberapa anak-anak muda bermain di sini, tapi tidak untuk sekarang.
Sudah lebih dari tiga jam aku di sini dan masih saja seperti ini, tak ada manusia di taman ini kecuali aku. Aku beranjak pergi, percuma jika aku tetap menunggu, Memang, sebelum berangkat tetanggaku meiwanti-wanti bahwa ada wacara dari pemerintah untuk tetap tinggal di rumah, dan dampaknya taman akan sepi, tapi aku tetap optimis, barangkali Tuhan berkehendak lain untuk hari ini.
Kulangkahkan kakiku meninggalkan taman kota. Kuteriakkan nama gorenganku keras-keras, “Tempe! Bakwan Jagung! Pisang goreng! Gorengan Bapak! Gorengan Ibu! Gorengan!” berulang kali. Tiba-tiba aku teringat sosok ibu. Ibu yang sangat sabar dan pekerja keras. Dulu, saat ibu masih ada, biasanya aku berkeliling dengan ibu, tentunya sepulang dari sekolah. Aku menghampiri ibu sambil membawakan sebuah kotak makan berisi nasi untuk kami berdua. Ibu selalu menyambutku dengan senyumnya yang bagiku mengalahkan Lisa Blackpink, salah satu personil girlband Korea kesukaanku. Lalu kami makan bersama dengan lauk gorengan yang ibu jual, setiap hari. Sederhana memang, tapi ketika ibu sudah tak lagi ada kesederhanaan itu sangat aku rindukan.
Sekarang, tinggal ada aku, adik, dan seorang nenekku di rumah. Rumah petak sederhana yang bagiku seperti surga. Nenekku sudah sepuh, tapi masih giat bekerja membuat gorengan lalu menjajakannya di sekitar rumah. Adikku, ah aku tak sanggup menceritakan. Adikku adalah adik yang manis, berlesung pipi dengan matanya yang lebar dan senyumnya yang membuatku selalu semangat. Tetapi, sayangnya dia merupakan anak berkebutuhan khusus. Tangan dan kakinya kurus, ia tak bisa berjalan dan jika dia ingin sesuatu harus kami bantu karena dia tak bisa melakukannya sendiri, bicaranya pun tak jelas. Tapi aku sangat sayang padanya. Mereka berdua, nenek dan adikku adalah harta yang tak terhingga.
Ibu pernah berpesan padaku bahwa aku harus menyayangi adikku dan menjaga nenekku. Walaupun ya,mungkin, sesekali aku kesal karena aku terlalu lelah. Ibu berkata bahwa aku harus bersabar karena adikku hanya memiliki kami dan mengingatkan tentang buah dari sifat sabar. Aku mendengarkan dengan sesekali mengangguk.
Sudah hampir adzan Maghrib, aku harus pulang terlebih dahulu. Aku pun mempercepat langkah sambil sesekali berteriak. Tiba-tiba, dari belakang terdengar bunyi knalpot kencang dan sepertinya dengan kecepatan kencang. Aku menengok ke belakang, “Brak!” Sepeda motor menabrak nampanku lalu menjatuhkan semua isi di dalamnya. Si pengendara tancap gas dan meninggalkanku yang masih shock. Ingin kumenangis sejadi-jadinya, meneriaki si pengendara yang tak terpuji itu, tapi ia telah pergi. Gorengan yang seharusnya bisa aku hangatkan dan dijual kembali setelah salat Maghrib sekarang rusak. Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Aku berusaha beristighfar, bersabar. Namun, aku tak mampu untuk kembali ke rumah dengan keadaan seperti ini. Aku khawatir jika nenek melihatku menangis maka beliau akan cemas. Kupunguti satu persatu gorengan-gorengan tadi. Gorengan-gorengan yang susah payah nenek dan aku masak, susah payah aku jual ternyata sekarang penuh dengan debu, tak layak dimakan.
Seorang ibu menghampiriku dari belakang dan membantuku memunguti gorengan. Ia turut prihatin dengan kejadian yang baru saja menimpaku dan memberikan uang sebesar lima puluh ribu. Aku berusaha menolak tapi ibu itu memaksaku untuk menerimanya. Ya Allah, inikah jalanmu untuk kehidupanku? Dua puluh ribu uang yang sangat berarti bagiku, apalagi lima puluh ribu. Terimakasih atas kebaikan yang telah Engkau beri, dari manapun. Ibu, mungkin ini adalah salah satu buah dari kesabaran yang telah ibu ajarkan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *