BAPAK

Oleh : Alena Nur Wulida

Gambar : google

Malam itu, aku dan saudaraku sudah terlelap di rumah nenek karena bapak dan mama sedang berada di rumah sakit. Sudah lama bapak sakit jantung di Rumah sakit Keluarga Sehat di Pati, Jawa Tengah. Pagi telah tiba aku, adik, dan kakak bergegas ke rumah untuk mandi dan bersiap-siap. Saat ingin  membuka pintu ternyata mama dan bapak sudah di rumah. Rasanya bahagia, namun aneh, aku juga merasa sedih. Senangku karena bisa bertemu dengan bapak dan mama setelah satu bulan lamanya aku tidak bertemu dengan mereka. Sedihku karena bapak masih terbaring lemah setelah operasi.

Seperti biasa, saat matahari telah terbit kami pun bersiap-siap berangkat sekolah. Aku dan kakakku bergegas berangkat. Aneh, ada rasa tak ingin meninggalkan rumah. Tapi bagaimana lagi, aku harus sekolah Kusalami bapak yang masih belum membuka matanya. Perasaanku sudah tidak enak. Jam sudah terlalu mepet. Kuprediksi kami akan telat. Terpaksa, kami harus menumpang bersama saudaraku. Kujalani hari-hari di sekolah tanpa ada halangan pula dengan saudaraku.

Jam pulang sekolah telah tiba. Aku pulang dengan berjalan kaki. Dan sesampainya di rumah, ku buka pintu dan menaruh sepatu di rak. Ku lihat ke kamar mama, tanteku, saudaraku, nenek, dan mama tampak melihat bapak dengan pandangan yang hampa.

Saudaraku bergegas dan bersiap-siap untuk Jum’atan bersama kakek di masjid setempat. Kulihat mama bermata sembab, kudekati dan kutanya, “Ma, habis nangis ya?”

“Enggak,” jawab mama.

Mama tak dapat menyembunyikan kesedihan di matanya. Mata yang biasanya bersinar dengan indah itu, kini memerah. Aku takut. Takut akan sesuatu terjadi pada bapak, karena tak seperti biasanya semua berkumpul di rumah kala tidak terjadi perayaan apapun. Ku pegang kaki bapakku, masih hangat. Aku segera ke kamar kakak merenungi apa yang kulihat. Aku harus memastikan lagi, ucapku dalam hati. aku berlari,  ku pegang kaki bapakku, masih hangat. Orang-orang yang berada di sekitar bapak diam saja melihat tingkahku. Tapi mereka tampak sedih dan entah, aku tak tahu. Aku ke kamar kakak lagi, menunggu kakak. Tiba-tiba datanglah Luna, saudaraku yang lain. Ia menarik lenganku. Aku terheran-heran, namun kuikuti langkahnya yang cepat. Ia meletakkan tanganku di tangan bapak. Dingin. Tangan bapak sekarang sudah dingin. Adzan Jum’atan berkumandang mengantarkan kepergian bapak. Aku merasa tak percaya ini terjadi pada bapak. Bapak yang sangat kucintai. Bapak yang selalu ada saat kubutuhkan. Bapak yang selalu menjelaskan semua tanpa rasa kesal.

Air mata tak dapat kubendung lagi. Serasa kami sudah tidak memiliki semangat lagi. Kulihat tante bersiap untuk menjemput kakakku yang masih berada di sekolah. Nenek menelpon sanak saudaraku. Yang lain…entahlah. Aku melihat bapak, bapak tidur bukan? Bapak pasti tidur, sebentar lagi juga akan bangun. Aku mencoba memanggil bapak, bapak tak menyahut. Kupanggil lagi bapak sambil menggoyangkan lengan bapak, “Pak, bangun pak, bangun. Kata bapak, bapak mau ajak mbak jalan-jalan nanti sore.” Tiba-tiba ibu meraih tanganku, mendekap badanku. Kami berdua tenggelam dalam kehilangan.

Kehilangan bapak adalah sesuatu yang tak pernah kusangka akan secepat ini. kupeluk mama dengan erat. Mama masih berlinang air mata dan menatap pasrah dengan keadaan. Semenjak kejadian itu, terkadang aku iri jika melihat keluarga yang lengkap bercanda ria, bemain bersama. Memang, kita seharusnya kita manfaatkan waktu sebaik mungkin dengan orang yang kita sayangi, jangan sampai menyesal kala ia telah pergi, karena penyesalan selalu berada di akhir perjalanan.

(Fiksi Mini/ At-Tatsqif)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *