Namanya Syafaatul Okta Rahmadhani. Gadis manis kelahiran Pati, 10 Oktober 2005 ini merupakan salah satu pemenang dalam lomba Cipta Puisi tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh LESAN (Lembaga Seni Anak Nasional), dalam rangka Hari Santri Nasiona Tahun 2020. Ia menyabet Juara ke-3 dalam perlombaan tersebut.

Putri dari Bapak Musthofa dan Ibu Sarmini ini menyukai menulis sejak duduk di bangku kelas 4 MI. Ada kisah yang menarik di belakang hobinya menulis. Dulu, ia sangat gemar mencorat-coret buku bagian belakang. Suatu ketika, terlintas di pikirannya, mengapa tak ia ubah kebiasaan corat-coretnya dengan suatu coretan yang lebih berfaedah, seperti merangkai kata misalnya. Kemudian, ia mulai mencoba menulis kata demi kata. Lambat laun karena sudah terbiasa. Ia merasakan keseruan dalam tarian tintanya. Bahkan, setiap tahun ia menghasilkan 2 buku yang semua lembarnya berisi puisi dan cerpen. Naskah yang sudah jadi pun seringkali ia tunjukkan pada guru bahasa Indonesia dan sering dicorat-coret untuk dibenahi. Kemudian, menginjak MTs, ia memberanikan diri untuk mengikuti salah satu ekstrakulikuler kepenulisan, At-Tatsqif. Perjalanan yang cukup panjang bukan?

Idola merupakan salah satu hal yang membuat seseorang menjadi lebih bersemangat meraih asa. Idola dari Kak Rahma tak lain adalah penulis senior, sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Menurutnya, kata-kata yang tertulis pada karya-karya Pak Pramoedya mengalun dengan indah sehingga menciptakan harmoni dan inspirasi. Ia juga mengingat salah satu quote beliau, yakni –“Orang boleh sepandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakt dan sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadiaan.

Mengikuti lomba cipta puisi menurut gadis kelas 9 ini memang baru pertama kali. Ia bercerita, sewaktu MI sempat akan diikutkan lomba. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mendekati hari H perlombaan tiba-tiba ia jatuh sakit, maka ia terpaksa harus digantikan oleh orang lain.

Tuhan tak pernah tidur, dan akan membersamai orang-orang yang berusaha. Dari cerita di atas, kita tahu bukan, menggapai apa yang diingankan bukanlah hal yang mudah. Semua butuh proses.

Ketika ditanya apa pesan yang ingin disampaikan kepada teman-teman ataupun adik kelas yang ingin mengikuti jejaknya, Kak Rahma pun menjawab,“Intinya percaya diri itu penting, karena saya pertama-tama mau mengikuti lomba ini saya pernah merasa minder. Tapi, saya ingat yang support saya juga banyak dan saya nggak mau mengecewakan mereka. Jujur, saya adalah seorang yang suka tantangan, apalagi hal-hal baru. Tantangan akan seru jika kalian nikmati. Kalian juga harus tetap semangat, jangan pantang menyerah. Kalau sudah kerja keras, pasti Allah akan memberi takdir yang lebih baik dari yang kita pinta.”

(At-Tatsqif/Web)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *